Ungkap Tiga Masalah Populer Penyebab Perceraian

PERCERAIAN yang marak terjadi banyak diakibatkan berbagai faktor. Inilah beberapa masalah populer yang kerap menjadi penyebab utamanya. Kompleksitas masalah yang melingkupi para warga kosmopolit membuat kehidupan mereka pun penuh warna. Belum lagi, beban hidup dan pekerjaan yang kian menghimpit pikiran setiap hari semakin membuat seseorang stres berat. Akhirnya, hubungan pernikahan pun tak jarang menjadi imbasnya. Begitulah, warga ibu kota yang kian modern memang dituntut tidak saja hidup dalam kemapanan, tapi juga bersosialisasi tingkat tinggi. Tuntutan tersebutlah yang pada akhirnya kerap mengganjal hubungan pernikahan seseorang. Psikolog Efnie Indriani dalam perbincangannya dengan okezone melalui sambungan telepon, Selasa (17/1/2012), mengulas beberapa penyebab populer perceraian para pasangan. Dituturkannya, penyebab-penyebab tersebut merupakan data yang diperolehnya berdasarkan pengalaman empirik dari pasien-pasiennya. Problem pertama yang populer yakni masalah keuangan. Misalnya saja jika wanita bekerja dan suaminya juga, maka tidak menutup kemungkinan penghasilan istri lebih besar. Alhasil, 70 persen kebutuhan finansial di-cover istri. Selama ketentuan ini berdasarkan persetujuan bersama mungkin tidak bermasalah. Tapi ujung-ujungnya, suami pun memiliki harga diri yang tidak ingin perannya jadi terbenam oleh istrinya. “Hal ini pun bisa menjadi masalah atau memicu pertengkaran kecil yang lama-lama melebar,” tuturnya. Masalah kedua yang sering menjadi penyebabnya adalah adaptasi pernikahan. Dalam hal ini jika menyangkut kultur Indonesia bahwa pernikahan merupakan kehidupan yang juga melibatkan keluarga suami dan istri. Namun terkadang karena terlalu “over” ekspektasi misalnya, dengan tuntutan memiliki anak atau frekuensi mengunjungi keluarga yang minim. Semua hal itu pun bisa menjadi pemantik pertengkaran dengan suami yang akhirnya membahayakan pernikahan. Ketiga adalah menyoal tingkat kesibukan suami dan istri. Ketika keduanya sama-sama sibuk tentu kelelahan akan mendera masing-masing. Dengan beban kerja dan segala problema yang dihadapi membuat fisik dan pikiran dilanda kelelahan sepulang ke rumah. Alhasil quality time dan pillow talk pun terpinggirkan. “Akibat lelah, kita jadi sensi dan akhirnya menimbulkan pertengkaran,” katanya. Efnie mengatakan, tiga masalah di atas merupakan pengalaman empirik didapatnya. Prosentase yang dapat digambarkannya, yakni enam dari 10 orang yang konsultasi dengannya mengeluhkan permasalahan tersebut. Namun hanya satu-dua pasangan yang akhirnya bercerai, sementara sisanya berhasil menyelamatkan hubungan.

Dwi Indah Nurcahyani – Okezone

Tags: , , ,

About smartetos

Succesfull Life with smart ethos and enthusiasm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: